Kamis, 23 Juli 2020

Apa itu toxic positivity?


Pernah kah kamu mendengar istilah Toxic Positivity? Istilah ini telah ada selama beberapa waktu, tetapi banyak dari kita yang bisa saja mengalaminya karena pandemi m global maka harus lebih berhati-hati dan mewaspadai efek berbahaya dari istilah tersebut. Toxic positivity adalah kepositifan yang tidak tulus yang mengarah pada bahaya, penderitaan yang tidak perlu, atau kesalahpahaman,”.

Secara sederhana, jika kamu pernah mengalami masa-masa sulit (putus cinta, kehilangan pekerjaan), kamu mungkin pernah mendengar beberapa frasa berikut ini dari teman dan keluarga. Orang yang mengucapkannya pasti memiliki niat baik; mereka hanya mencoba memberi filter pada saat-saat sulit yang kamu alami. “Ini menjadi lebih baik, tetap optimis,” mereka meyakinkan mu. Tetapi jika pernyataan seperti ini hanya kamu dengar dari teman dan keluarga mu, hal positif yang berlebihan itu bisa menjadi negatif. Dorongan dan pembicaraan diri semacam ini begitu umum sehingga para ahli kesehatan mental menamainya: Toxic Positivity.

Di saat pandemi seperti ini, mungkin yg paling membuat stress adalah masalah keuangan. Maka untuk menghindari masalah anggaran keuangan pribadi. Memiliki gambaran apa saja pengeluaran dan menentukan prioritas tentu saja sangat memudahkan kita untuk mengontrol keuangan kita dan bisa meringankan gejala stress. Sehingga kita bisa dijauhkan dari toxic Positivity.

Orang kerap kali menganggap bahwa menjadi terlalu pesimis atau sinis sebagai racun atau toxic. Tetapi berpikir bahwa diri mu harus selalu positif dan bahwa kamu tidak dapat merasakan emosi negatif sama beracunnya. Keadaan ini dapat diibaratkan ketika kamu memiliki terlalu banyak es krim: meskipun awalnya membuat kamu merasa senang atau merasa baik, pada akhirnya hal itu dapat membuat sakit jika kamu mengonsumsinya berlebihan. Dapat disimpulkan bahwa melakukan segala sesuatu secara berlebihan pada akhirnya akan menjadi racun untuk diri kita. Baik hal yang poitif maupun negatif.

0 komentar:

Posting Komentar