Kamis, 14 Mei 2020

Kadiyono, Tukang Tambal Ban yang Bangun Sekolah untuk Difabel


Kemuliaan seseorang memang tak pernah bisa diukur dari pekerjaan yang dilakukannya. Seperti halnya Kadiyono, seorang tambal ban yang bahkan mungkin lebih mulia dibandingkan banyak orang dengan pekerjaan mentereng. Selang mencari nafkah dengan mengajar di sekolah dan tempat tambal bannya, ia berbagi kebaikan dengan mendirikan SLB di desa tempat tinggalnya. 

Biayai Sekolah Sedari SD dengan Menambal Ban 

Menggeluti kegiatan menambal ban, bukanlah hal baru lagi bagi Kadiyono, pria asal Boja, Kendal, yang tahun ini genap berusia 51 tahun. Sejak umur 8 tahun, kegiatan menambal ban sudah dilakoni oleh Kadiyono, di bengkel milik ayahnya. Pendapatannya dari menambal ban ini, dimanfaatkan Kadiyono untuk membiayai pendidikannya dari jenjang SD hingga lulus pendidikan S2.    

Melanjutkan pendidikan ke jenjang universitas, bukanlah perkara gampang bagi Kadiyono. Ia baru lulus dari kuliah S1 di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIK) Semarang pada tahun 2001, setelah 11 tahun lamanya. Keterbatasan biaya menjadi alasan utama mengapa waktu kuliahnya memakan waktu hingga belasan tahun lamanya. 

Pada tahun 2012, Kadiyono memutuskan melanjutkan kuliah ke jenjang S2 di Universitas Muhammadiyah Surakarta dengan program studi Manajemen Pendidikan. Soal biaya tentu saja Kadiyono gantungkan pada hasil menambal ban yang dilakoninya. Keterbatasan biaya sama sekali tak menghambat tujuan hidup Kadiyono, termasuk niat mulianya mendirikan sekolah luas biasa (SLB). 

Mendirikan Sekolah Khusus Difabel dan Langsung Antar Jemput Siswanya

Baju lusuh Kadiyono yang digunakannya saat menambal ban, berbanding terbalik dengan bersih dan tulusnya hati yang dimilikinya. Sejak tahun 2015 silam, Kadiyono mendirikan sekolah luar biasa (SLB), untuk memfasilitasi para difabel yang berada di lingkungan tempat tinggalnya. Awal mula mendirikan sekolah untuk anak berkebutuhan khusus ini pun bukan perkara gampang bagi Kadiyono. 

Modal awal mendirikan SLB ini didapatkan Kadiyono dengan menjual sepeda motornya seharga 5 juta. Selebihnya, dana ia dapatkan dari hasilnya menambal ban, serta pendapatannya dari mengajar di SMA. Niat Kadiyono begitu tulus untuk mencerdaskan anak-anak yang terlahir khusus ini. Bahkan, orang tua siswa pun hanya dibebankan biaya pendidikan semampunya oleh Kadiyono. 

Kemuliaan hati Kadiyono tak berhenti di situ saja. Ia malah tak sungkan untuk langsung mengantar jemput anak berkebutuhan khusus yang menuntut ilmu di sekolahnya. Aktivitas ini dilakukannya semata-mata agar tak ada anak berkebutuhan khusus di daerahnya yang tak bersekolah. Ini juga dilakukannya karena ada sebagian orang tua yang merasa minder mengantarkan anak mereka bersekolah. 

Hingga tahun lalu, SLB yang diberi nama Insan Tiara Bangsa ini sudah memiliki 47 murid aktif. Kadiyono pun juga tak mengajar di sana seorang diri, karena sekarang ada 7 orang guru yang turut serta mendidik para siswa. Bagi Kadiyono, kebahagiaan tentu tak hanya terletak pada pencapaian dirinya sendiri saja, melainkan juga manfaat dirinya bagi orang lain. 

Kadiyono, Sosok Inspiratif yang Layak Dapat Penghargaan 

Perjuangan Kadiyono untuk mencukupi hak pendidikan anak disabilitas di daerahnya, tentu pantas diapresiasi setinggi-tingginya. Salah satu apresiasi yang layak didapatkannya adalah kesempatan umroh gratis dari Allianz, lewat kampanye #AwaliDenganKebaikan yang digalakkannya. Kadiyono adalah sosok inspiratif, yang darinya Anda bisa belajar berbagi dengan orang lain.

Melalui kampanye #AwaliDenganKebaikan, Allianz yang merupakan lembaga asuransi syariah Indonesia, mengajak orang untuk peduli sesama, seberapa kecil pun bentuknya. Anda juga bisa mulai berbagi kebaikan dengan orang terkasih, dengan memberikannya jaminan perlindungan masa depan melalui produk asuransi syariah Allianz. 

0 komentar:

Posting Komentar