Rabu, 27 Februari 2019

Galaxy Fold Masih Belum Akan Dirilis


Usai memastikan menunda peluncuran Galaxy Fold, Samsung disebut-sebut akan melakukan pengumuman resmi smartphone layar lipat itu bulan depan. Kabar ini diperoleh dari pernyataan salah satu petinggi perusahaan beberapa waktu lalu.

Namun laporan terbaru menyebut Samsung menepis rumor tersebut. Dikutip dari Korea Herald, Samsung maupun rekanannya mengaku tidak memiliki rencana untuk memperkenalkan smartphone ini dalam waktu dekat.

"Jika ingin melakukan konferensi pers, kami tentu sudah mempersiapkannya sejak sekarang. Hingga saat ini, belum ada perubahan sejak kami menunda pengumuman pada April lalu," tutur Samsung.

Sebelumnya, memang santer terdengar Samsung telah menyelesaikan masalah di Galaxy Fold. Karenanya, perusahaan sudah mempersiapkan diri untuk menggelar konferensi pers di Korea Selatan.

Samsung sendiri telah mengumumkan pihaknya akan melakukan pembatalan pre-order untuk Galaxy Fold apabila ada pelanggan yang tidak memberikan konfirmasi lebih lanjut usai ada penundaan peluncuran.

"Bila kami tidak mendapat konfirmasi dari Anda dan kami tidak mengirimkan perangkat hingga 31 Mei, pesanan Anda secara otomatis akan dibatalkan," tulis perusahaan.

Rabu, 20 Februari 2019

Wi-Fi Kantor Rentan Terkena Serangan Siber


Hampir semua kantor kini telah dilengkapi dengan jaringan internet Wi-Fi, bahkan jumlahnya kadang lebih dari satu.

Karyawan pun bisa dengan nyaman menghubungkan smartphone, tablet, hingga laptop mereka ke jaringan Wi-Fi di kantor mereka.

Namun, jaringan internet nirkabel ini bisa jadi titik lemah dalam infrastruktur IT perusahaan. Dari mana potensi bahaya pada jaringan Wi-Fi kantor?

Mengutip keterangan resmi Kaspersky, penggunaan sandi yang lemah bisa jadi salah satu akses masuk serangan melalui Wi-Fi kantor.

1. Penambangan Kata Sandi

Tidak semua perusahaan memakai kata sandi yang kompleks dan unik untuk Wi-Fi mereka. Sangat sedikit yang memberikan upaya lebih untuk menonaktifkan penyiaran nama jaringan.

Bukan hanya itu, rupanya tidak begitu banyak orang yang membatasi kekuatan sinyal Wi-Fi, guna mencegah koneksi jaringan di luar kantor.

Padahal, langkah-langkah kecil di atas sebenarnya bisa menjadi pencegahan sederhana dari serangan potensial di dekat kantor, ataupun upaya masuk ke sistem IT kantor lewat koneksi Wi-Fi.

Perlu diwaspadai sebenarnya, melakukan serangan sederhana pada login router hanya butuh waktu beberapa detik.

Sementara, meretas kombinasi sandi yang rumit membutuhkan banyak waktu. Peretas bisa saja menggunakan kerentanan firmware yang ada pada router.

2. Kerentanan Firmware

Peneliti Kaspersky rutin mendeteksi kerentanan yang memungkinkan pelaku serangan masuk ke jaringan lewat kata sandi router Wi-Fi, dan mekanisme perlindungan lainnya.

Dalam beberapa kasus, mereka mendapatkan hak pengguna super pada perangkat. Biasanya, pengembang juga berupaya lebih cepat untuk memperbaiki kerentanan tersebut.

Sayangnya, banyak perusahaan tidak memasang patch pada waktu yang tepat, terutama jika melibatkan reflashing firmware ketika melakukannya.

3. Jaringan Bagi Para Tamu

Banyak perusahaan memakai jaringan Wi-Fi berbeda untuk karyawan dan tamu. Hal ini merupakan bentuk pencegahan yang masuk akal. Pasalnya di satu sisi, pelanggan dan pengunjung bisa terhubung ke internet kantor.

Namun di sisi lain, para tamu dan orang luar tidak akan memiliki akses ke jarigan perusahaan dan sumber daya internal.

Kendati begitu, jaringan Wi-Fi tamu ternyata berpotensi merugikan bagi perusahaan.

Menciptakan sandi untuk jaringan tamu adalah hal yang mudah, namun dalam beberapa kasus, jika jaringan tidak terkonfigurasi dengan benar, para tamu dapat menuju beberapa infrastruktur perusahaan.

Dengan konfigurasi jaringan yang tepat, tanpa disadari karyawan dapat membahayakan diri mereka sendiri.

Misalkan salah satu dari mereka ingin mengakses sumber daya jaringan yang diblokir oleh kebijakan perusahaan. Tanpa berpikir dua kali, ia menghubungkan laptop dengan data rahasia ke jaringan Wi-Fi para tamu.

Sekarang seorang pelaku kejahatan siber yang bersembunyi di jaringan yang sama dapat mencoba melakukan serangan man-in-the-middle dan menginfeksi laptop si karyawan dengan malware.

Saran dari Kaspersky

1. Perusahaan perlu memperbarui firmware router Wi-Fi dan titik akses serta lakukan pembaruan terkini.

2. Menerapkan kata sandi yang unik, panjang, dan rumit untuk mengakses Wi-Fi. Kata sandi yang kuat membuat peretasan jaringan jadi lebih rumit.

3. Batasi kekuatan sinyal sehingga jaringan tidak dapat dipakai di luar kantor.

4. Sembunyikan nama jaringan agar sulit ditemukan.

5. Pilih nama jaringan yang sulit dan tidak bisa ditebak.

6. Pisahkan jaringan Wi-Fi tamu dari Wi-Fi karyawan.

Rabu, 13 Februari 2019

Pavel Durov sebut Hacker Tiongkok Dalang di Balik Serangan Telegram



Telegram disebut-sebut menjadi target serangan siber. Kabar tersebut pun ditanggapi pendiri sekaligus CEO Telegram. Dilaporkan Reuters, Pavel Durov justru menuding jika Tiongkok adalah dalang di balik serangan siber tersebut.

Ia mengungkapkan hal itu melalui akun Twitternya @durov. Dalam cuitannya itu, ia menyebut bahwa aplikasi perpesanan besutannya itu diserang oleh hacker yang terafiliasi oleh negara Tiongkok.

Menurut Durov, Telegram menghadapi serangan Distributed Denial of Service (DDoS) yang cukup kuat, di mana alamat IP penyerang berasal dari Tiongkok.

Durov juga menyebut, serangan DDoS itu bertepatan dengan pecahnya aksi protes di Hong Kong, terkait dengan RUU ekstradisi.

Serangan DDoS tersebut melibatkan pengiriman serangan tertarget, sehingga membuat terjadinya gangguan terhadap sebagian atau seluruh layanan Telegram.

Sebelumnya, ratusan ribu pengunjuk rasa di Hong Kong menentang undang-undang ekstradisi yang memungkinkan orang-orang di Hong Kong diekstradisi ke Tiongkok jika dianggap melakukan pelanggaran.

Pemerintah Tiongkok mengecam aksi protes tersebut dan menyebut, para demonstran dimotivasi oleh kekuatan dari luar. Aksi protes pun dianggap bisa merusak stabilitas sosial di Hong Kong.

Sementara itu, saat dimintai konfirmasi, pengawas kebijakan siber di Tiongkok Cyberspace Administration of China (CAC) belum memberikan jawaban.

Di sisi lain, juru bicara kementerian luar negeri Tiongkok Geng Shuang menyebut, pihaknya tidak mengetahui apapun terkait tudingan Durov.

Sekadar informasi, Telegram dan aplikasi chatting terenkripsi lainnya cukup populer bagi demonstran untuk berkoordinasi, tanpa ketahuan oleh aparat.

Terkait serangan yang bertepatan dengan aksi protes warga Hong Kong, Durov menambahkan, kasus serangan serupa pernah dihadapi oleh Telegram. Oleh karena itu, dia menyebut, kasus serangan siber terhadap Telegram ini bukanlah pengecualian.

Sebelumnya, aplikasi lain juga diblokir di Tiongkok selama gerakan politik di Hong Kong. Pada 2014 pula, Tiongkok memutuskan akses ke aplikasi berbagi foto Instagram di mainland Tiongkok.

Pejabat Tiongkok pun kerap membantah tudingan atas serangan siber yang didalangi oleh pemerintahnya. Ia bahkan mengatakan bahwa Tiongkok justru menjadi pihak yang sering jadi korban serangan siber pihak lain. 

Rabu, 06 Februari 2019

Telkomsel Belum Tunjuk Mitra Jaringan untuk Menggelar 5G



Setelah memperkenalkan teknologi 5G pertama di Indonesia saat ASIAN Games 2018 lalu, Telkomsel terus mengembangkan inovasi untuk mempersiapkan koneksi jaringan 5G di Indonesia.

Direktur Network Telkomsel, Iskriono Windiarjanto mengatakan, pihaknya sudah mempersiapkan untuk adopsi generasi baru dari koneksi broadband ini, namun untuk adopsinya di Indonesia masih banyak yang harus dipersiapkan. Di antaranya adalah kesiapan perangkat untuk membangun ekosistem 5G, termasuk alokasi spektrum yang saat ini sedang dikaji lebih lanjut oleh pemerintah.

"Untuk IoT (Internet of Things) dengan 5G di Indonesia juga masih banyak yang harus dipersiapkan," katanya dalam keterangan persnya.

Menurutnya, teknologi 5G membutuhkan alokasi spektrum yang cukup signifikan. Pemerintah harus menyediakan sejumlah 80-100 MHz spektrum secara kontinyu bagi setiap operator di band utama (seperti 3,5 GHz), dan sekitar 1 GHz bagi setiap operator di band millimeter wave (seperti spectrum diatas 24 GHz).

3GPP sebagai organisasi standarisasi industry telekomunikasi Internasional juga sedang mempersiapkan proposal terhadap standarisasi dari 5G NR (New Radio).

"Selanjutnya untuk tahapan komersialisasi 5G, tentunya Telkomsel menunggu izin dari pemerintah untuk membuka spektrumnya. Sedangkan kesiapan dalam hal kerjasama, kami belum menunjuk mitra jaringan untuk penggelaran 5G nasional," lanjut Iskriono.

Telkomsel merupakan operator pertama yang menghadirkan pengalaman 5G di Indonesia, melalui 5G Experience di kompleks Gelora Bung Karno, selama perhelatan Asian Games 2018.

Melalui aktivasi Telkomsel 5G Experience Center, masyarakat Indonesia dapat merasakan langsung implementasi teknologi revolusioner yang nantinya dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi secara nyata. Berbagai perangkat yang diperkenalkan Telkomsel di antaranya adalah Live Streaming, Football 2020, Future Driving, Cycling Everywhere dan Autonomous Bus.